Posts

Showing posts with the label Cerbung

#55 MTBJDT: Bagian 6 VIP (End)

Image
Bagian 6: VIP Rembulan bersimbah darah malam ini. Cantik sekali. Aku duduk bersandar di atas kursi goyang yang berderit merdu di teras balkon. Kunikmati ketenangan kelam sambil menyesap jus merah yang kental dan segar. Ping Sebuah tanda pesan masuk membangunkan laptop yang tengah terlelap. Meski nama dan nomor pengirim tidak tercantum, aku tahu betul dari mana pesan ini berasal. [Hapus PRETEL! Kode: 3 tangkai bunga putih. DP3M-PP5M.] " Waow! Fastastic! " Dan seperti biasa, pesan musnah dalam 3 detik. Untuk memastikan pelobi, aku mengecek saldo rekening bank. " Nice! " Aku tidak bisa menahan mekarnya senyuman di bibir. Segera saja aku berselancar mencari informasi tentang hal tersebut. Kesepuluh jemari beradu cepat dengan detak jam dinding. Ketukan demi ketukan seakan menjalin nada dan irama yang sempurna. " Gotcha! " PRETEL. Proyek Rekonstruksi dan Efisiensi Taman untuk area Ekonomi Lanjutan adalah rencana rahasia sebuah pihak sw...

#54 MTBJDT: Bagian 5 Fatal

Keempat petugas polisi duduk mengelilingi satu meja. Netra mereka lekat memandangi empat ponsel, delapan lembar foto, dan setumpuk kertas. Hanya terdengar deru napas dan gumaman yang samar. "Gila!" Brian menggebrak meja. "Bagaimana bisa bukti sepenting ini datang lewat kurir dari pengirim anonim?" Keempat ponsel tersebut terbukti milik keempat korban. Petugas Lilis dan Ayu sudah mengonfirmasi serta mencetak daftar panggilan yang tersimpan maupun yang dihapus. Pesan singkat undangan resital juga ada. "Bagaimana cara melaporkannya pada Pak Wachid?" Lutfi mengernyitkan dahi. Kepalanya miring ke kiri dan kedua lengannya dilipat di depan dada. "Kalau jujur, bukannya malah dipuji malah akan digetok pakai sol sepatu." "Apa kita harus mengarang indah?" Ayu melihat ke arah Brian. "Kalau ketahuan, bisa kena sanksi disiplin kita." Dengan mengambil risiko diomeli Komisaris Wachid, Brian dan Lutfi melaporkan dengan sebe...

#53 MTBJDT: Bagian 4: Meruncing

Tiga hari terjaga sukses mencetak lingkaran hitam di sekitar mata Brian dan Lutfi. Skleranya tampak penuh dengan guratan merah. Itulah harga yang harus mereka bayar untuk memperuncing anak panah kebenaran. Demi menguatkan dugaan awal, lima orang saksi dipanggil ulang untuk dimintai keterangan lebih lanjut. "Kenapa kita dipanggil lagi, ya?" "Iya nih! Jangan-jangan kita masuk daftar tersangka?" Para saksi meracau dan membuat gaduh ruang tunggu. Keriuhan mereda setelah Briptu Lutfi menampakkan diri. "Ibu Rosi dan Ibu May!" Dua perempuan itu berdiri perlahan. Lutfi mengisyaratkan dengan tangan agar mereka mengikutinya. "Nama lengkap anda berdua adalah ... Hailatur Rosidah dan Halimah Maysaroh?" Tanya Brian. Mereka mengiyakan dengan serempak. "Ibu May, di sini tertulis bahwa Ibu baru kembali dari luar pulau, ya?" "Iya, Pak. Saya ada pelatihan guru." "Hmm, apakah anda berdua pernah mendapat pesan un...

#52 Misteri Tiga Bu Joko di Tokyo: Bagian 3

Image
Cerbung Spesial ODOP Batch 7 Bagian 3 Dua hari berlalu sejak penemuan tiga penyusup. Surat perintah pemanggilan saksi yang diajukan ke AKP Wachid sudah dikantongi. Tim Pemburu mengundang nama-nama yang terlibat dalam acara di aula Tokyo. Hari ini, mereka datang secara bergelombang ke Kantor Polisi Pusat Abstrak. Para undangan harus menunggu di ruangan khusus, sampai Briptu Lutfi memanggil nama mereka. Untuk menjaga ketertiban, tiga puluh orang tersebut ditemani sepuluh petugas. "Ehem! Harap yang namanya saya panggil segera berdiri dan mengikuti saya," terang Lutfi. Setiap pernyataan saksi direkam oleh kamera yang diawasi oleh petugas Lilis dan Ayu. Hingga akhirnya tiba giliran tiga nama terakhir. "Selamat malam! Silahkan duduk." Brian membenarkan posisi duduknya. Lutfi, Lilis, dan Ayu menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, langsung saja ke pertanyaan utama. Apa yang anda bertiga lakukan di aula Tokyo dua bulan yang lalu? Di mulai dari ... Ibu Bet...

#51 Misteri Tiga Bu Joko di Tokyo: Bagian 2

Image
Cerbung Spesial ODOP Batch 7 Bagian 2 "Pak Brian, akun sosial media empat korban sudah dihapus!" Seru Bripda Lilis. "Dihapus?!" AIPTU Brian memijat tengkuk. Memejam dan mengetuk-ketukkan jemarinya di atas meja. "Apa ini? Kenapa harus dihapus? ... Rekaman CCTV-nya bagaimana?" "Tiga korban pertama terakhir terlihat di tiga warung kopi berbeda," jawab Bripda Ayu. "Kalau korban keempat, dia terlihat memasuki gedung parkir pada pukul 20.26," sambungnya. "Identitas korban keempat adalah pria berinisial N, 37 tahun. Seorang wartawan lepas. Kemungkinan pelaku menaruh dendam pada korban, karena dia terkenal sebagai wartawan yang sangat kritis." Briptu Lutfi menyerahkan lembaran data korban kepada sang atasan. "Hmm, ...." Brian mengelus-elus dagu sambil memajukan bibir satu senti. "Hasil autopsi korban N belum dikirim?" "Itu ... Dokter Dita meminta kita datang agar dia bisa menjelaskan...

#50 Misteri Tiga Bu Joko Di Tokyo: Bagian 1

Image
PERINGATAN Kisah ini hanyalah fiktif belaka. Kesamaan nama tokoh adalah hal yang disengaja. Namun, penokohan dan perwatakan murni dari imajinasi penulis. Harap pembaca bijak dalam menyikapinya. Cerbung Spesial ODOP Batch 7 Bagian 1 Kota Abstrak. Sebuah kota metropolitan yang dijuluki 'Kota Seribu Taman'. Gedung-gedung tinggi menjulang menombak langit. Pepohonan trembesi memayungi setiap lajur jalan raya. Namun, kedamaian dan kesibukan penduduk yang intens harus porak poranda akibat penemuan tiga jenazah secara beruntun. Desas desus menyebar tidak terbendung. Menyebabkan keresahan. Ketiga jenazah diindikasi sebagai korban pembunuhan berantai karena memiliki penyebab dan kondisi kematian yang sama. Hingga hari ini, pihak kepolisian belum menemukan benang merah antara ketiga kasus tersebut. Untuk penyelidikan lebih lanjut, AKP Wachid memanggil AIPTU Brian dan Briptu Lutfi ke ruangannya. "Kuserahkan kasus ini pada kalian. Selesaikan dengan baik secepatn...