Posts

Ulasan Cerita Mimpi di Dalam Mimpinya Mimpi

Pengunjung Galeri Nio 🌻


Ini adalah tulisan kedua setelah saya resmi tergabung dalam keluarga besar ODOP. Terpaut cukup lama memang 😅. Setelah lulus, kini saya dihadapkan pada tantangan baru, higher level. Kelas Fiksi ODOP menjadi arena belajar yang baru. Rentetan tugas yang sudah dijabarkan PJ memacu adrenalin, dan ... inilah yang saya tulis untuk memenuhinya.

ULASAN CERPEN NGODOP.COM KARYA ACHMAD IKHTIAR AKA UNCLE IK YANG BERTAJUK "CERITA SEORANG LELAKI YANG SEDANG BERMIMPI TENTANG DIRINYA YANG SEDANG BERMIMPI"

Cerpen Uncle Ik ini dimuat pada edisi 1/I/Maret 2019. Baiklah, karena masih 'bayi' dan butuh asupan 'gizi', saya akan mengupas, eh, mengulas setiap unsur dari cerpen.

Let's start!

1. Unsur Intrinsik

a. Tema

Tema yang diusung cukup sederhana, mimpi. Namun, mimpi yang diambil dari sudut pandang yang unik. Tokoh 'Aku' menceritakan bagaimana tingkah dirinya di dalam mimpi yang saling tumpuk, membentuk tiga lapis mimpi. Nah, cerita berlanjut dalam…

ODOP BATCH 7 2019: FOR ME

Image
Finally, ODOP BATCH 7 had reached the end.
Yesterday was the last day.

First, I am sorry for using English in this post, fellows. 😅. I am ... kind of missing this language. Literally, for two months this blog had been filled with Indonesian. So, I will use English today. (Just for practicing so I won't lose my 'ability' 😅)


This is where I started to choose writing as my concern about now. As my movement from drawing to writing was not an easy path. I knew this community from Kopling Daily Chatting. I got some pushes to join this event to get writing skill and a tense practical experience.

And, it is true. I had been forced to post everyday and execute a challenge every week, except for the last week I did seven times. Did I get bored? Yes, of course. I was so confused to pick what to write. Then when it was done ... oh my God~ terribly bad. Maybe, after this I will delete that posting.


Overall, there were 8 small groups. In Batch 7, Tokyo is my small group. There were …

#56 Biografi: Dewie DeAn, Sang Seniman

Image
Pengunjung Galeri Nio 🌸
Mari mengenal lebih dekat penulis hebat dari Grup Konstantinopel 😁
Nama asli Dewie DeAn, Sang seniman Aksara, di kartu keluarga adalah Dewi Mariyana. Lahir di Kota Tebing Tinggi pada hari Minggu, 11 maret 1990. Alamatnya sekarang masih numpang orang tua, di Kota Tebing Tinggi, Sumatra Utara.
Selama hidup, Mbak Dewie pernah mondok beberapa bulan. Pendidikan formal yang terakhir adalah SMA, dan sekarang masih menyelesaikan study di open university Malaysia.
Dewie DeAn lahir sebagai sulung dari tiga bersaudara dalam keluarga yang cukup sederhana. Motto keluarganya adalah hidup sedehana kunci kebahagiaan. Tidak berlebih-lebihan ketikapun ada sesuatu yang lebih. Orang tua Mbak Dewie adalah seorang pensiunan kontraktor.
Berangkat dari kultur keluarga yang memegang prinsip sederhana. Mbak Dewie DeAn pun memiliki motto hidup "Sederhana kunci kebahagiaan, sederhana tapi memesona".
"Karena dalam hidup tidak ada yang benar-benar milik kita, jika pun yang sa…

#55 MTBJDT: Bagian 6 VIP (End)

Image
Bagian 6: VIP Rembulan bersimbah darah malam ini. Cantik sekali. Aku duduk bersandar di atas kursi goyang yang berderit merdu di teras balkon. Kunikmati ketenangan kelam sambil menyesap jus merah yang kental dan segar.
Ping
Sebuah tanda pesan masuk membangunkan laptop yang tengah terlelap. Meski nama dan nomor pengirim tidak tercantum, aku tahu betul dari mana pesan ini berasal.

[Hapus PRETEL! Kode: 3 tangkai bunga putih. DP3M-PP5M.]

"Waow! Fastastic!" Dan seperti biasa, pesan musnah dalam 3 detik. Untuk memastikan pelobi, aku mengecek saldo rekening bank.

"Nice!" Aku tidak bisa menahan mekarnya senyuman di bibir. Segera saja aku berselancar mencari informasi tentang hal tersebut. Kesepuluh jemari beradu cepat dengan detak jam dinding. Ketukan demi ketukan seakan menjalin nada dan irama yang sempurna.

"Gotcha!"

PRETEL. Proyek Rekonstruksi dan Efisiensi Taman untuk area Ekonomi Lanjutan adalah rencana rahasia sebuah pihak swasta dan oknum pemerintah kota.…

#54 MTBJDT: Bagian 5 Fatal

Keempat petugas polisi duduk mengelilingi satu meja. Netra mereka lekat memandangi empat ponsel, delapan lembar foto, dan setumpuk kertas. Hanya terdengar deru napas dan gumaman yang samar.
"Gila!" Brian menggebrak meja. "Bagaimana bisa bukti sepenting ini datang lewat kurir dari pengirim anonim?"
Keempat ponsel tersebut terbukti milik keempat korban. Petugas Lilis dan Ayu sudah mengonfirmasi serta mencetak daftar panggilan yang tersimpan maupun yang dihapus. Pesan singkat undangan resital juga ada.
"Bagaimana cara melaporkannya pada Pak Wachid?" Lutfi mengernyitkan dahi. Kepalanya miring ke kiri dan kedua lengannya dilipat di depan dada. "Kalau jujur, bukannya malah dipuji malah akan digetok pakai sol sepatu."
"Apa kita harus mengarang indah?" Ayu melihat ke arah Brian.
"Kalau ketahuan, bisa kena sanksi disiplin kita."
Dengan mengambil risiko diomeli Komisaris Wachid, Brian dan Lutfi melaporkan dengan sebenar-benarnya. Dan …

#53 MTBJDT: Bagian 4: Meruncing

Tiga hari terjaga sukses mencetak lingkaran hitam di sekitar mata Brian dan Lutfi. Skleranya tampak penuh dengan guratan merah. Itulah harga yang harus mereka bayar untuk memperuncing anak panah kebenaran.
Demi menguatkan dugaan awal, lima orang saksi dipanggil ulang untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
"Kenapa kita dipanggil lagi, ya?"
"Iya nih! Jangan-jangan kita masuk daftar tersangka?"
Para saksi meracau dan membuat gaduh ruang tunggu. Keriuhan mereda setelah Briptu Lutfi menampakkan diri. "Ibu Rosi dan Ibu May!" Dua perempuan itu berdiri perlahan. Lutfi mengisyaratkan dengan tangan agar mereka mengikutinya.
"Nama lengkap anda berdua adalah ... Hailatur Rosidah dan Halimah Maysaroh?" Tanya Brian.
Mereka mengiyakan dengan serempak.
"Ibu May, di sini tertulis bahwa Ibu baru kembali dari luar pulau, ya?"
"Iya, Pak. Saya ada pelatihan guru."
"Hmm, apakah anda berdua pernah mendapat pesan untuk menghadiri sebuah acara…

#52 Misteri Tiga Bu Joko di Tokyo: Bagian 3

Image
Cerbung Spesial ODOP Batch 7
Bagian 3 Dua hari berlalu sejak penemuan tiga penyusup. Surat perintah pemanggilan saksi yang diajukan ke AKP Wachid sudah dikantongi. Tim Pemburu mengundang nama-nama yang terlibat dalam acara di aula Tokyo. Hari ini, mereka datang secara bergelombang ke Kantor Polisi Pusat Abstrak.
Para undangan harus menunggu di ruangan khusus, sampai Briptu Lutfi memanggil nama mereka. Untuk menjaga ketertiban, tiga puluh orang tersebut ditemani sepuluh petugas.
"Ehem! Harap yang namanya saya panggil segera berdiri dan mengikuti saya," terang Lutfi. Setiap pernyataan saksi direkam oleh kamera yang diawasi oleh petugas Lilis dan Ayu. Hingga akhirnya tiba giliran tiga nama terakhir.
"Selamat malam! Silahkan duduk." Brian membenarkan posisi duduknya. Lutfi, Lilis, dan Ayu menghela napas dalam-dalam. "Baiklah, langsung saja ke pertanyaan utama. Apa yang anda bertiga lakukan di aula Tokyo dua bulan yang lalu? Di mulai dari ... Ibu Betty, silahkan!&qu…